Omnipotensi atau ke-wahli-an-absolut biasanya dihubungkan dengan konsep Tuhan dalam tradisi tradisi monoteistik. Namun, ketika kekuasaan tanpa batas dipertanyakan secara logis, muncul serangkaian paradoks yang telah menjadi bahan perdebatan para filsuf, teolog, dan ilmuwan sejak zaman kuno. Hal ini tidak hanya menantang pemahaman tradisional tentang Tuhan, tetapi juga menyingkap batas batas bahasa, logika, dan metafisika.
Secara sederhana, omnipotensi berarti kekuasaan atas segala sesuatu . Definisi yang paling umum digunakan dalam filsafat agama adalah kemampuan untuk melakukan segala apa saja yang logis mungkin. Namun, para pemikir telah mengusulkan definisi lain, seperti:
Apakah Tuhan dapat menciptakan sebuah batu yang begitu berat sehingga Ia tidak dapat mengangkatnya?
Jika Ya, maka ada sesuatu yang tidak dapat Ia lakukan (mengangkat batu); jika Tidak, Ia tidak dapat menciptakan batu itu. Jawaban tradisional menganggap bahwa pertanyaan itu melampaui logika karena menggabungkan dua sifat yang saling bertentangan.
Misalnya, Apakah Tuhan dapat menghentikan diri sendiri untuk tidak melakukan sesuatu yang Ia janjikan? Jika bisa, maka janji itu tidak mutlak; jika tidak, maka terdapat sesuatu yang melampaui kuasa-Nya.
Logika klasik menolak proposisi yang kontradiktif (mis. Ada lingkaran segitiga ). Logika modal menambahkan dimensi kemungkinan dan kebutuhan. Banyak filsuf modern, seperti Alvin Plantinga, berargumen bahwa omnipotensi harus dipahami dalam kerangka kemampuan melakukan semua hal yang mungkin secara logis .
Thomas Aquinas menyatakan bahwa kekuasaan Tuhan terbatas oleh sifat sifat-Nya sendiri. Contohnya, Tuhan tidak dapat berbohong karena melanggar sifat kebenaran Nya. Dengan kata lain, tidak ada kontradiksi bila kekuasaan dianggap memungkinkan semua hal yang konsisten dengan sifat Tuhan .
Beberapa filsuf kontemporer, misalnya Robert Adams, menganggap paradoks sebagai masalah bahasa i.e., kita memakai istilah mampu dalam konteks manusia, bukan dalam konteks keberadaan transenden. Menurut mereka, pertanyaan paradoksal tidak menyingkap kekurangan Tuhan, melainkan kekurangan konsep manusia.
Beberapa pemikir sekuler menolak premis omnipotensi sebagai premis yang tidak dapat dibuktikan. Mereka berargumen bahwa:
Paradox omnipotensi tetap menjadi tantangan penting dalam filsafat agama. Diskusi ini mengungkap dua hal utama:
Apapun posisi yang diambil apakah mendukung definisi tradisional, menolak konsep omnipotensi, atau menginterpretasi ulangnya secara metaforis paradoks ini mengajak kita untuk terus menelusuri batas-batas akal, iman, dan bahasa.